Si Mbah Kagungan Nopo?

Ketika seorang cucu bertanya kepada ‘mbah’nya, maka tentu saja si ‘mbah’ tadi akan dengan senang hati menjawab pertanyaan dari cucunya. Begitu pula ketika sang cucu meminta sesuatu kepada ‘mbah’nya, maka-lagi-lagi- dengan senang hati pula si ‘mbah’ tadi memberikan apa yang dia punya.

Kenapa saya mengawali tulisan ini dengan cerita si ‘mbah’? Ya, karena saat ini muncul si ‘mbah’ baru yang dinamakan mbah google. Mbah kita yang satu ini sebenarnya tidak memiliki apa-apa, tapi punya segudang jawaban bagi setiap pertanyaan kita. Mbah kita yang satu ini memang mbah yang cerdas, yang bisa mengayomi cucu-cucunya yang kehausan informasi. Dia bisa menunjukkan seluruh informasi yang diinginkan oleh cucu-cucunya.

Lalu bagaimana dengan penyedia informasi lain, khususnya perpustakaan? Tenang saja, perpustakaan dalam bentuknya yang tradisional tidak akan ditinggalkan. Selama, mereka yang berada di wilayah pengelola perpustakaan, mampu berperilaku seperti si mbah yang selalu mengayomi kebutuhan cucu-cucunya.

Lalu kenapa jika para ‘cucu’ tersebut berpaling pada ‘mbah’ google? Keberpalingan para cucu tersebut tidak lain sebenarnya dikarenakan ‘mbah’ perpustakaan masih kurang bisa mengayomi ‘cucu’nya. Lihat saja bagaimana sikap ‘mbah’ perpustakaan ketika ada cucu yang datang bertanya sesuatu, sikap dingin, jawaban ketus, dan segudang stigma lainnya masih melekat, dan anehnya masih banyak yang menerima perlakuan seperti itu. Jika itu yang terus terjadi, bagaimana si ‘cucu’ akan betah berdekatan dengan si ‘mbah’ perpustakaan.

Mulai sekarang, ‘mbah’ perpustakaan harus merubah sikapnya. Tinggalkan egoisme bahwa dia adalah pengelola perpustakaan sehingga bisa berperilaku ‘semena-mena’ terhadap cucunya. Bagaimanapun juga, setiap cucu masih memerlukan senyum sapa yang ramah, komunikasi kekeluargaan, tumpukan buku yang membuat penasaran. Ini yang harus diperhatikan jika perpustakaan ingin menjadi ‘mbah’ yang baik.

Terakhir, seyogyanya, sesama ‘mbah’ yang baik harus saling akur. Harus ada kerjasama yang baik antara ‘mbah’ perpustakaan dan ‘mbah’ google. Hal ini tentu saja diperlukan tentu saja agar sang ‘cucu’ tidak terlantar di tengah ladang informasi yang cukup luas ini… :D

4 comments on “Si Mbah Kagungan Nopo?

  1. yang menjadi pertanyaan selanjutnya, simbah perpustakaan sm mbah google lahirnya duluan mana? kl aq sh pzti jwb mbah perpustakaan yg lebih dulu. tp koq kaya’e pinteran mbah google?? py jal?? apa disekolahin lg mz, ben pinter ter ter terrrr….

    • Memang dilihat dari sejarah, duluan Mbah Perpust, tapi proses perkembangan perpust dengan google memang lebih cepat google. Ini karena pelaku perpustakaan, khususnya yang seperti kita kenal selama ini, memang cenderung pasif, sedangkan google cenderung aktif. Jadi klo ingin menyaingi Google, jangan hanya bisa bilang klo teknik pencarian Google itu merupakan turunan dari teknik pencarian di perpust, tapi dengan cara bagaimana menciptakan hal yang lebih dari Google. Karena selama ini, justru Google dan mesin pencari lainnya yang akhirnya dijadikan rujukan oleh perpustakaan dalam pengembangan sistem pencarian di wilayah mereka. :D

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s