OLEH: FIQRU MAFAR
Membaca judul di atas, mungkin membuat pembaca mengira tulisan ini akan berisi bagaimana seharusnya pribadi pustakawan dibentuk. Bagaimana cara mereka berhadapan dengan pemustaka. Bagaimana pula cara mereka menghadapi sistem birokrasi yang ada. Pun bagaimana cara dia bertutur kata, sikap, dan perilaku dalam menjalin kerjasama dengan lembaga lain. Jika itu yang ada di benak para pembaca budiman, maka mungkin siap-siap untuk sedikit kecewa.
Ya, tulisan ini tidak akan membahas masalah di atas. Menyinggung sedikit mungkin iya, tapi tidak sepenuhnya. Justru hal-hal di atas hanya sebagai selingan dari tulisan ini. Bukan hal inti yang akan dibahas. Dalam tulisan ini, saya hanya ingin mengajak para pembaca yang budiman untuk menyimak sampai akhir, kemudian mengajak diskusi. Bagaimana pendapat dari masing-masing individu. Setuju atau tidak setuju bukan menjadi masalah bagi saya. Yang penting, bagaimana memahaminya. …. (tambah bingung tho..???)
Oke. Daripada tambah penasaran, mari kita mulai membaca.
Tulisan ini bermula dari satu pertanyaan, apa yang terjadi jika pustakawan memiliki kepribadian ganda. Mungkin dua, tiga, atau bahkan lebih kepribadian yang dimilikinya. Bayangkan, cukup bayangkan saja, kemudian baru berkomentar.
Bayangkan, jika pustakawan dalam tulisan ini memiliki kepribadian pertama, yaitu kepribadian yang juga dimiliki oleh orang kebanyakan. Dia baik, ramah, suka bergaul. Mungkin justru sangat pandai, hingga dia mampu membuat perpustakaan menjadi sangat indah. Nyaman bagi semua orang. (Homy atau Cozy jika diistilahkan anak jaman sekarang, ga tau bener atau nggak tulisannya… heheheh
).
Terkait kepribadian pertama itu, dia juga fokus terhadap kemajuan perpustakaan. Dia lakukan manajemen koleksi yang baik. Membentuk SOP (ini yang kataya harus ada di perpustakaan, tapi….??? hehehe). Dia lakukan kerjasama dengan berbagai lembaga. Dia juga melakukan promosi dengan baik, sehingga membuat perpustakaannya ramai dikunjungi. Bahkan digadang-gadang sebagai perpustakaan ideal. (Memang kata ideal sulit untuk diukur, karena banyak sekali tolok ukurnya, ada sirkulasi perkapita, kunjungan perkapita, bacaan perkapita, dan perkapita-perkapitan yang lain. Tapi temen saya si pita ga ikut di dalam kategori ini lho.. Maap jika ada yang merasa di sebut…. hehehe).
Dia juga suka dunia tulis menulis. Maka jangan ditanya kalau soal berapa banyak tulisannya yang sudah diterbitkan. Baik yang berbentuk sastra, artikel, hasil penelitian, buku, dlaam format cetak maupun digital, dia jagonya. Tapi, kebanyakan tulisannya berbau Post Modernisme (meski aku ga begitu paham apa itu post modern… hehehe….
). Bahkan, melalui tulisan-tulisannya, dia ingin mendekonstruksi tatanan-tatanan yang sudah mapan. Termasuk dalam dunia perpustakaan. Ide-idenya cukup brilian. Hal ini bisa dilihat dari beberapa tulisannya seperti dekonstruksi fungsi-fungsi perpustakaan, wacana RDA vs AACR2, Dekonstruksi ruang perpustakaan ala Borges, dll. Jika pembaca budiman membaca tulisannya, dijamin akan larut dalam keasyikan tanpa sadar bahwa pembaca telah terkena hipnotis dari dia.
Tapi, di balik semua itu, jarang ada yang tahu kalau dia adalah mantan narapidana. Hal ini membuatnya memiliki kepribadian yang lain. Sebagai mantan narapidana, dia paham betul akan bentuk-bentuk tindakan kriminal. Termasuk tindakan-tindakan yang mengarah ke sana dan bagaimana cara mengatasinya. Jadi, jangan coba-coba mencuri buku, merobek buku, ataupun tindakan kriminal lainnya. Karena dia akan menetahuinya, dan bisa dipastikan dia akan tahu siapa pelakunya. Fatalnya, jika ketahuan olehnya, bisa dipastikan orang yang melakukannya tidak akan pernah lagi terlihat mengunjungi perpustakaan tempatnya bekerja. Bahkan orang itu menjadi jarang terlihat di lingkungannya. Entah apa yang telah dilakukan Sang pustakawan terhadap orang tersebut. Tidak ada yang tahu. (Nah loh, kalo kayak gini, siapa yang berani coba??? Dijamin aman dah.. ahahahahahah
).
Usut punya usut, dia juga ahli komputer. Jangan tanya bagaimana cara utak-atik komputer. Dia jagonya. Kalo ada wacana pustakawan itu perlu pandai komputer, maka dialah orangnya. Jadi, ga rugi dah klo punya pustakawan kayak dia. Tak perlu lah membayar orang lain untuk membuat otomasi perpustakaan, perpustakaan digital, future catalog, Next-gen OPAC, dan lainnya yang berhubungan dengan komputer. Dia bisa langsung mengerjakannya dalam waktu kurang dari yang ditargetkan. Bahkan tanpa mengesampingkan isu-isu hak cipta, plagiarisme, interoperabilitas, dan lainnya.
Tapi, jika dia mau, dia akan menyebarkan virus ke seluruh jaringan yang terhubung dengan komputer yang dipegangnya, maka…. wassalam. Selesai sudah nasib para komputer lain yang terhubung dengannya. (Ngeri nggak tuh, aku terinspirasi oleh novel yang judulnya, klo ga salah, ‘Chaos’. Temen2 yang tertarik teknologi, terutama jaringan, hacking, dan pervirusan, saya rasa perlu membaca novel yang satu ini. Ini bukan promosi lho, just suggested…
).
Pernah suatu hari. Dia berfikir bahwa dia perlu melindungi komputernya dari kejahilan tangan-tangan yang tidak bertanggung-jawab. Maka dia membuat komputer itu penuh dengan virus. Di mana ketika ada orang yang membuka komputer itu tanpa ijin, maka seluruh virus yang ada di komputernya akan menyebar dengan sendirinya. Dari LAN, WAN, Inherent (atau apalah namanya), Intranet, Internet, semuanya. Dan bisa dipastikan, komputernya pernah dibuka orang lain tanpa ijin. (Jadi, jika komputer temen2 terkena virus, apapun itu, mungkin gara-gara orang yang satu ini… hehehe…).
Tapi, di balik semua itu. Pustakawan satu ini tetap orang yang bertanggung jawab terhadap keluarganya (saya tidak perlu mengatakan dia itu laki-laki atau perempuan, karena takut nanti justru menimbulkan bias gender. Bisa-bisa saya dituntut… hehehe). Dan itu diakui oleh keluarganya.
Nah, berdasarkan bayangan di atas, bagaimana pendapat para pembaca yang budiman?. Ayo kitamulai diskusinya. Mohon dikomen ya….(Tulisan ini hanya fiktif belaka, jika ada kesamaan nama, kejadian, dan sejenisnya, bukan atas faktor kesengajaan. Jadi mohon keikhlasannya untuk memaafkan hamba yang hina dina ini…
).
Kepribadian ganda atau keahlian ganda? ^_^
Menurut saya, Pustakawan memang “wajib” punya kepribadian ganda, wakakak… Amin Maalouf dalam novelnya “Misteri Rubaiyyat Omar Khayyam” mengutip nasehat Abu Taher, pemuka agama Samarkhand kepada Khwaja Omar Khayyam ;
“Kau harus berwajah ganda, yang satu kau perlihatkan kepada orang banyak, yang lain kepada dirimu sendiri dan Sang Pencipta”
Artinya, kepribadian pustakawan juga begitu. Pustakawan yang mantan narapidana boleh, pustakawan mantan preman pasar boleh, bahkan pustakawan yang biarawan juga ada…
Asalkan jangan narapidana mantan pustakawan… ^_~
Intinya, pribadinya dia pertanggungjawabkan sendiri dihadapan Allah.
Namun kepribadiannya sebagai pustakawan, selain kepada Allah, harus dia pertanggungjawabkan pula pada pemustaka, perpustakaan, bangsa dan negara… ^^
{ ah… maafkan daku jika salah, masih belajar ^^ }
Maksud saya begini kang Mamet. Oke memiliki pribadi ganda itu wajib klo menurut si Abu Taher (bapaknya si taher, jangan2 dia adalah generasi pertama dari keluarga Taher… hehehe). Tapi bagaimana jika kepribadian tersebut dia gunakan untuk mengatasi hal2 seperti tindakan kriminal di atas, tapi berakibat pada tidak kembalinya pemustaka? trus juga berkibat menyebarnya virus ke berbagai komputer? Kalaupun itu mesti dihindari, kenpa dan bagaimana cra mengatasinya, bagaimana pula dampaknya nanti di perpustakaan??? (terlepas dari adanya pertanggungjawaban di hari akhir nanti, karna itu sudah suatu kepastian yang tidak dapat ditolak)
Menurut saya hingga saat ini ada dua kategori pustakawan……
pustakawan yang dipilih dan pustakawan yang memilh…..
jika pustakawan yang dipilih, maka ia menjadi pustakawan berdasarkan saran, anjuran, adanya peluang, perintah dsb…..
sedangkan pustakawan yang memilih, maka ia menjadi pustakawan karena “panggilan hati” (ck…ck…..) ada sesuatu yang menantang dan menarik (suit…suit…) sesuai dengan latar belakang pendidikannya dan akan mengplikasikan ilmu yang di dapat.
tidak di pungkiri hal ini akan berpengaruh kepada pribadi pustakawan itu sendiri yang dampaknya berimbas bagi semua pustakawan. Ibarat pepatah karena nila setitik, rusak susu sebelangga……..(Track record)
jikalau pemikiran cak fiqru tadi menggambarkan kepribadian pustakwan yang di idamkan….aku setuju sekali. cuma di tambah bahwa pustakawan itu memilih bukan dipilih. (mohon maaf pada semuanya jika tidak berkenan.){PEACE}
Berarti, melihat pendapat kang Athian di atas (aku ga tau, harus memanggil akang atau mbak, hehehe), saya mulai berfikir, seharusnya pustakawan adalah profesi yang merupakan panggilan hati. gitu ya?
tapi kang, berdasarkan pengalaman, ada beberapa mahasiswa calon pustakawan, justru ketika ditanya kenapa kuliah di perpustakaan, jawabannya beragam, tapi ada yang mengatakan, karna mau masuk jurusan ….. tidak diterima, jadi ya masu saja ke jurusan ini.. gimana coba klo kayak gini.. hehehe
sepertinya penulis sudah punya jawaban yang cukup komprehensip
Weduw, maksudnya punya jawaban yang komprehensip yang gimana nih???
gak cuma pustakawan kali ya yang bisa berkepribadian ganda.. ^_^
most of us sometime do this ‘ being other people’ as long as it is possible and confortable for us why not and as long as it is not harmful to others hehehe
Artinya: Semua orang terkadang berkepribadian ganda. Dan itu tidak apa2 asal nyaman bagi kita dan bagi orang lain…. (kira-kira begitu ya vit.. hehehe)
Saya setuju dengan kepribadian ganda pustakwan dengan tujuan pengembangan perpusatakaan, so,,,Why not??
berarti semua setuju, dengan embel2 seperti tadi…
Hai Cak Fiqru… Rasanya istilah ‘kepribadian ganda’ kurang tepat cak! Kapribadian ganda kalau dalam psikologi klinis dikenal dengan ‘Multiple Personality Disorder’ atau sering juga disebut ‘Dissociative Identity Disorder’ ini berkaitan dengan kelainan kejiwaan yang membutuhkan penanganan khusus. Bisa dilihat di sini –> http://en.wikipedia.org/wiki/Dissociative_identity_disorder
Sedangkan kepribadian sendiri diartikan sebagai keseluruhan cara di mana seorang individu bereaksi dan berinteraksi dengan individu lain. Kepribadian paling sering dideskripsikan dalam istilah sifat yang bisa diukur yang ditunjukkan oleh seseorang. Jadi jika seorang pustakawan punya sifat ramah, jujur, komunikatif, penolong, disiplin, tegas, ini adalah satu kepribadian utuh, bukan terpisah.
Nah, jika seorang pustakawan selain mampu melakukan tugasnya sebagai pustakawan, ternyata dia juga mampu menulis, mampu menjadi ahli IT, bahkan mampu menjadi public speaker, menjadi enterpreneur, itu artinya si pustakawan punya kemampuan / keahlian ganda yang dalam ilmu psikologi disebut ‘Multiple Intelligences’. Menurut Howard Gardner, seorang ahli yang memperkenalkan konsep Multiple Intelligences, dalam diri manusia terdapat 8 kecerdasan yaitu kecerdasan verbal/bahasa, kecerdasan logika/matematika, kecerdasan spasial/visual, kecerdasan tubuh/kinestetik, kecerdasan musical/ritmik, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan spiritual. Dari 8 kecerdasan ini terkadang ada salah satu atau beberapa yang lebih menonjol dr yang lain. Tapi jika kita bs memaksimalkan semuanya, tentu akan sangat luar biasa, bukan ??
Demikian cak Fiqru, semoga diskusi kita ini bermanfaat…
Ops, berarti pengertian kepribadian yang aku fahami perlu didaur ulang ya??? hehehe… BTW, thanks mbak atas koreksinya. Ya, sebenernya tulisan di atas adalah angan-angan yang aku harap bisa diwujudkan. Semoga….