Dulu, mungkin beberapa tahun yang lalu, jika berbicara mengenai katalog, maka yang akan terbayang dalam benak kita (saya dan pembaca budiman) adalah kartu berbentuk kotak, dengan ukuran tertentu dan dengan tata letak tertentu. Tapi, mungkin bagi sebagian orang, katalg tidak lagi sebuah kartu, tapi cukup tampilan di monitor komputer, tidak peduli apakah tampilan tersebut berbentuk dekstop base ataupun web base, yang menampilkan serangkaian data yang nantinya akan dapat berfungsi sebagai informasi yang akan membantu pemustaka (ada yang bilang, pengguna, pemakai, pengunjung, dan lain-lain, monggo mau pilih yang mana) dalam proses pencarian koleksi, entah itu buku, artikel, peta, dan lain sebagainya.
Dari pengertian (kalau penjabaran di atas dapat dikatakan sebagai sebuah pengertian) yang saya susun di atas, maka dapat diketahui bahwa katalog dimaksudkan sebagai alat bantu di perpustakaan. Logikanya, jika dia adalah alat bantu, maka hanya akan digunakan ketika dibutuhkan. Dengan kata lain, pemustaka akan menggunakan katalog jika mereka membutuhkan bantuan dalam menemukan koleksi. Tetapi, jika pemustaka tidak membutuhkan bantuan, maka katalog yang ada, apapun bentuknya (entah yang tercetak dalam kartu ataupun dalam komputer) tidak akan dibutuhkan. Ironisnya, beberapa penelitian justru mengungkapkan fakta yang kedua yaitu bahwa banyak pemustaka yang justru tidak menggunakan katalog terlebih dahulu sebelum menuju ke koleksi yang diinginkan.
Kasus jarangnya katalog digunakan paling tidak pernah saya alami. Ketika saya bekerja di salah satu perpustakaan di lembaga pendidikan, pernah suatu hari ada pemustaka yang mendatangi saya dan bertanya tentang fungsi lemari yang terdapat di bagian depan perpustakaan. Kebetulan lemari tersebut ternyata adalah lemari katalog. Kasus kecil ini setidaknya membuktikan argumen saya di atas bahwa dalam beberapa kasus, katalog di perpustakaan jarang digunakan.
Asumsi saya, terlepas dari ada tidaknya pendidikan pemakai dan besar kecilnya perpustakaan, beberapa pemustaka menganggap bahwa proses tercepat dalam menemukan koleksi di perpustakaan adalah dengan datang langsung ke rak koleksi. Pencarian katalog justru menghambat proses penemuan tersebut. Bayangkan saja pada katalog kartu, pemustaka harus mengurutkannya berdasarkan abjad pengarang, mungkin juga judul dan subjek, kemudian diikuti dengan nomor klasifikasi, letak ruangan, dan seterusnya dan seterusnya. Mungkin, pemustaka merasa akan lebih cepat jika dia langsung menuju ke jajaran koleksi dan kemudian lambat-laun mengerti mengenai tata urutan koleksi yang ada sehingga dapat langsung mengetahui ada tidaknya koleksi yang diinginkan.
Asumsi di atas memang sengaja saya lontarkan, karna mungkin akan banyak yang menentangnya. Tak apalah, tapi kenyataannya memang demikian. Coba kita amati dengan benar, apakah fakta-fakta di atas dapat ditemukan di perpustakaan yang pembaca budiman temui? Oleh karena itu, tulisan ini memang sengaja saya bikin tidak ada akhirnya. Saya akan sangat senang kalau para pembaca budiman mengisi poling yang saya buat di bawah ini.
Katalog tetap d butuhkan, tetapi tdk dlm bntukx yg manual, krn jaman skrg smua org brpikir mncari ssuatu dgn cara yg praktis dan cepat….katalog tetap d butuhkan ttp dlm bntuk opac
iya mas, memang katalog itu penting. Tapi juga harus memperhatikan tingkat penggunaan katalog itu sendiri di perpustakaan. Karena, meskipun sudah pake komputer, ternyata banyak juga katalog yang tidak digunakan. Ada juga kasus katalog tersebut di gunakan tapi yang dilihat hanya judul dan nomor klasifikasinya, sedangkan seperti keterangan tambahan lain ternyata kurang diperhatikan oleh pemustaka. Jadi keberadaan katalog sendiri, dengan segala fitur tambahannya mungkin perlu dikaji ulang.